Beranda / Berita / Berita Utama

Filosofi Tumpeng Tujuh Warna dalam Peresmian PPBBN Kamala Nusantara

06 Mar 2026 | Berita Utama
Filosofi Tumpeng Tujuh Warna dalam Peresmian PPBBN Kamala Nusantara


Peresmian Kamala Nusantara, Perkumpulan Perempuan Bersanggul Berbusana Nusantara (PPBBN Kamala Nusantara), pada 10 November 2017 di Ndalem Tjokronegaran No. 1, Magangan, Yogyakarta, ditandai dengan prosesi ngedhuk tumpeng yang dimaknai sebagai pengambilan kebaikan oleh GKBRAA Paku Alam. 

Tumpeng yang telah didoakan kemudian dibagikan dengan cara dikedhuk, yakni diambil pada bagian dasar kepada seluruh pengurus sebagai simbol kebersamaan dan tanggung jawab bersama. Hal ini berbeda dengan tradisi potong tumpeng.

Dalam sambutannya, Gusti Putri sapaan akrab beliau berpesan agar perkumpulan ini terus bertumbuh dan memberi manfaat, dari Yogyakarta untuk Nusantara. 

“Jangan lelah untuk terus belajar, tekun, serta memelihara dan melestarikan sanggul dan busana Nusantara,” tuturnya.

Ketua PPBBN Kamala Nusantara, Delia Murwihartini, menegaskan optimismenya. Ia menyebut 42 anggota awal merupakan sosok-sosok berdedikasi yang memiliki kecintaan mendalam pada sanggul dan busana Nusantara. 

“Kami yang hadir di sini mengawali dengan niat dan tekad yang sama, mencintai, mengenakan, dan melestarikan sanggul dan busana Nusantara sebagai identitas perempuan Indonesia,” ujarnya. 

Keyakinan itu menjadi fondasi moral sekaligus energi kolektif organisasi.

Membuka kembali album lama pendirian tersebut, kenangan mengalir ke Ndalem Tjokronegaran, kediaman keluarga Ibu Kartini Basuki Wiwaha, tempat ikhtiar budaya ini diresmikan. Peresmian tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga sarat makna filosofis dan spiritual.

PERESMIAN - Foto bersama para pendiri dan anggota PPBBN Kamala Nusantara saat peresmian organisasi di Ndalem Tjokronegaran, kediaman keluarga Ibu Kartini Basuki Wiwaha, 10 November 2017. Momen ini menjadi penanda awal ikhtiar pelestarian budaya perempuan bersanggul dan berbusana Nusantara.

Di tengah prosesi, hadir tumpeng tujuh warna yakni merah, putih, kuning, hijau, biru, ungu, dan cokelat. Bentuknya meruncing ke atas dalam tradisi Jawa dimaknai sebagai pengharapan dan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap langkah Kamala Nusantara sejak awal ditautkan pada permohonan petunjuk dan perlindungan Ilahi.

Merujuk buku Simbol dalam Tumpeng karya Ki Juru Bangun Jiwa (A. Sugeng Wiyono), tujuh warna itu memiliki filosofi yang melambangkan “warna kehidupan” semangat, keprihatinan, cinta, kesucian, suka, duka, dan perjuangan. Manusia akan mengalami seluruh spektrum tersebut dalam perjalanan hidupnya demikian pula sebuah organisasi.

Prosesi dilengkapi aneka buah-buahan atau woh-wohan. Dalam khazanah Jawa, woh bermakna “buah” atau “hasil” dari suatu usaha. Kehadirannya menjadi simbol harapan agar setiap ikhtiar melahirkan hasil yang baik dan membawa manfaat luas.

Aneka lauk-pauk dan masakan dapur melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Sementara bunga tujuh rupa mawar, melati, kenanga, kantil, asoka, kamboja merah, dan kamboja putih menyiratkan keharuman nama serta martabat. 

Mawar melambangkan cinta, melati kesucian niat, kenanga keharuman budi, kantil kedekatan batin, asoka kebahagiaan, dan kamboja keteguhan nilai.

Seluruh rangkaian simbolik itu menegaskan satu doa: agar Kamala Nusantara tumbuh sebagai perkumpulan perempuan yang bermanfaat, bermartabat, dan mampu bertahan melintasi waktu tegak mengarah ke langit, namun berakar kuat pada bumi tradisi.

Di tahun 2026 ini, PPBBN Kamala Nusantara telah sembilan tahun berdiri. 

Organisasi ini memiliki sekitar 60 anggota aktif dan telah menghadirkan tiga buku tentang sanggul dan busana Nusantara, yaitu Pesona Bungong Jeumpa, Yogya-Solo Riwayatmu Kini, dan Parahyangan Geulis. 

Buku-buku tersebut dimaksudkan sebagai pengayaan literasi tentang sanggul dan busana berbagai daerah di Nusantara, sekaligus sebagai dokumentasi budaya.***


Artikel ini merupakan kontribusi tulisan dari Esti Susilarti, PPBBN Kamala Nusantara.